Wednesday, May 2, 2012

Tentang Gunung Bawakaraeng


Gunung Bawakaraeng berada di wilayah Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Di lereng gunung ini terdapat wilayah ketinggian, Malino, tempat wisata terkenal di Sulawesi Selatan. Secara ekologis gunung ini memiliki posisi penting karena menjadi sumber penyimpan air untuk Kabupaten Gowa, Kota Makassar, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Sinjai.
 
Gunung Bawakaraeng terletak di dalam taman nasional Lompo Batang yang berada di dalam wilayah kabupaten Gowa. Di dalam peta gunung ini tidak tercantum, karena mungkin Bawakaraeng hanya dianggap salah satu puncak dari pegunungan yang berada di dalam taman nasional Lompo Batang.
Ada dua jalur yang biasa digunakan untuk mencapai puncak Bawakaraeng. Yaitu melalui desa Lembana dan Kasoso. Desa Lembana berada dalam kecamatan Tinggimoncong dan berjarak kurang lebih 7 km dari tempat wisata Malino. Sedangkan desa Kasoso berada dalam wilayah kecamatan Manipi, kabupaten Sinjai Barat. Ada sebuah lembah bernama lembah Cina yang adkan dilewati jika melalui Kasoso.

Nama gunung Bawakaraeng itu sendiri berasal dari bahasa makasar Bawa dan Karaeng. Bawa artinya mulut dan Karaeng artinya tuhan, sehingga dapat diartikan Bawakaraeng berarti mulut tuhan. Tak ada sebab yang pasti mengapa gunung ini diberi nama seperti itu, hanya dari cerita penduduk yang diketahui bahwa pada zaman dahulu ketika masa kerajaan Gowa masih berjaya ada seorang tokoh agama yang pergi haji ke tanah suci melalui puncak Bawa Karaeng dibantu malaikat. Ada cerita versi lain yang mengatakan pada masa lampau ada seseorang yang sangat ingin naik haji, lalu dia mendapatkan bisikan untuk mendaki puncak Bawakaraeng sebagai ganti hajinya. Wallahu a'lam mana cerita yang benar, namun yang pasti sampai saat ini masih banyak penduduk Gowa yang pergi haji ke puncak Bawakaraeng pada bulan Haji. Mungkin gelarnya "Haji Bawakaraeng", hehehe.
Puncak Bawakaraeng memiliki ketinggian 2705 mdpl. Pada pendakian kali ini kami melalui desa Lembana. Desa lembana berjarak kuarang lebih 75 km dari kota Maksar dan dapat ditempuh menggunakan pt-pt selama 2 jam, melewati sebuah bendungan besar, bendungan bili-bili.
Untuk tiba di desa Lembana dari kota Makasar naik pt-pt jurusan Sungguminasa, lalu berganti kendaraan ke arah Malino dengan biaya Rp. 8000 perorang. Jika beruntung kita bisa berhenti langsung di depan base camap. Namun jika tidak, harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 1 km menuju desa ini dari pemberhentian terakhir angkutan. Desa ini berada pada ketinggian 1400 m. Ada banyak basecamp rumah penduduk yang dapat digunakan beristirahat di desa Lembana. Di desa ini juga ada sebuah air tejun. Untuk mencapai puncak Bawakaraeng melalui desa Lembana setidaknya ada tiga bukit dan 9 pos yang harus dilalui Tak ada nama khusus yang diberikan untuk setiap pos.

Secara umum jalur dari base camp menuju pos 5 cukup mudah, sedikit menanjak dan banyak bonus. Melewati hutan semak yang tidak terlalu rapat. Jarak antar pos tidak terlalu jauh, dapat ditempuh dengan berjalan santai rata-rata dalam waktu ¾ jam setiap posnya. Jarak antara pos 5-6, mungkin yang terpanjang, disini jalur agak kurang jelas karena banyak pohon yang tumbang akibat kebakaran hutan. Kami sempat tersesat di sini. Dari pos 6 ke pos 7 jalan menanjak, pos 7-8 menurun. Pos 8-10 terus menanjak. Air dapat ditemukan di pos 3, 5, 8 dan puncak. Namun di pos 5 letak sumber air agak jauh. Biasanya para pendaki berkemah di pos 8, karena posisinya yang dekat dengan sumber air dan tempatnya luas.

Mitos
Bawakaraeng bagi masyarakat sekitar memiliki arti sendiri. Bawa artinya Mulut, Karaeng artinya Tuhan. Jadi Gunung Bawakaraeng diartikan sebagai Gunung Mulut Tuhan.Penganut sinkretisme di wilayah sekitar gunung ini meyakini Gunung Bawakaraeng sebagai tempat pertemuan para wali. Para penganut keyakinan ini juga menjalankan ibadah haji di puncak Gunung Bawakaraeng setiap musim haji atau bulan Zulhijjah, bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Tepat tanggal 10 Zulhijjah, mereka melakukan salat Idul Adha di puncak Gunung Bawakaraeng atau di puncak Gunung Lompobattang.
 
Tragedi longsor
Pada tanggal 26 Mei 2004, terjadi tragedi longsor di kaki Gunung Bawakaraeng, tepatnya di Kecamatan Tinggimoncong. Musibah longsor ini menewaskan 30 warga dan menimbum ribuan areal sawah dan perkebunan.
Eks wilayah longsor tersebut mengakibatkan daerah aliran sungai (DAS) menjadi labil. Setiap musim hujan, lumpur di kaki Gunung Bawakaraeng mengalir masuk ke Bendungan Bilibili, bedungan terbesar di Sulawesi Selatan yang ada di Kabupaten Gowa, yang menjadi sumber air baku di Gowa dan Makassar. Lumpur juga mengalir masuk ke Sungai Jeneberang, sungai terbesar di Gowa yang membelah Sungguminasa ibukota Kabupaten Gowa serta membendung Kota Makassar di wilayah selatan.
Gunung yang tingginya sekitar 2.705 meter dari permukaan laut ini juga menjadi arena pendakian. Namun, sudah banyak menelan korban akibat mati kedinginan bila mendaki pada musim hujan.
 

0 komentar:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates